Rumah Adat Dayak Benuaq (Lamin Mancong)

lamin temenggung merta

lamin Mancong, sebuah objek wisata yang tentunya sayang untuk Anda lewatkan jika berkunjung ke Kalimantan Timur. Rumah Lamin Mancong ini merupakan sebuah rumah panjang terbuat dari kayu khas suku Dayak Benuaq. Traveler bisa bertandang ke rumah ini di Kampung Mancong, Kecamatan Jempang, Kabupaten Kutai Barat, Kaltim.

Usia bangunan yang sudah senja ini sudah pernah mengalami pemugaran oleh EHIF (Equatorial Heritage International Foundation). Di depan rumah adat seluas 1.005 meter persegi ini terdapat beberapa patung-patung dengan ukuran khas suku Dayak. Ada yang berupa patung laki-laki dengan anjing, perempuan, maupun bentuk lainnya yang terlihat semi abstrak.

Konon menurut kepercayaan suku Dayak, patung-patung kayu ini menandakan jumlah kerbau yang telah disembelih dalam acara Kuangkai. Kuangkai itu merupakan ritual penghargaan kepada arwah leluhur yang dianggap berjasa sepanjang hidupnya oleh anggota keluarga. Dengan kata lain, satu patung menandakan satu ekor kerbau yang mereka sembelih. Untuk membuktikan kebenaran tersebut, tengkorak kerbau juga masih dapat Anda lihat di dalam rumah Lamin Mancong.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Menurut penuturan beberapa warga, dulu banyak turis asing datang ke Mancong untuk berkunjung ke Rumah Lamin. Kebanyakan dari mereka di antaranya dari Belanda ataupun Amerika. Ya, letaknya yang berdekatan dengan Tanjung Isuy dan Danau Jempang membuat rumah Lamin ini menjadi salah satu tujuan kunjungan wisatawan. Tak jarang, upacara penyambutan berupa tari-tarian adat digelar oleh masyarakat setempat, sesuai dengan permintaan wisatawan.

Bangunan Lamin Mancong saat ini, tak lagi sepenuhnya mengikuti prinsip bangunan Lamin Dayak. Hal ini tampak dari bentuk bangunannya yang bertingkat, sementara rumah panjang Dayak tidak ada yang bertingkat. Seluruh bangunan rumah Lamin Mancong terbuat dari kayu, ada yang bilang dari kayu Ulin. Akan tetapi, ada juga yang menyebutkan jika kayu yang digunakan rumah Lamin saat ini tidak murni terbuat dari kayu Ulin.

Saat ini, rumah Lamin hanya digunakan saat ada acara adat ataupun sebagai destinasi wisata. Tidak ada lagi warga yang mendiami Rumah Lamin.

Hijaunya pemandangan terhampar saat Anda sampai di bagian atas Lamin. Pemandangan lain yang tak kalah menarik adalah jalan setapak dari kayu ulin yang akan Anda lewati, mulai dari jalan masuk kampung hingga sampai di rumah Lamin.

Untuk berkunjung ke Lamin Mancong, Anda dapat melewati jalur darat atau sungai. Untuk menempuh jalur darat memerlukan waktu sekitar 5 jam dari Samarinda, Kaltim. Jika ingin merasakan suasana yang lebih seru dan menyatu dengan alam, Anda bisa coba dengan menyusuri Sungai Mahakam dari Samarinda ataupun Loajana dengan menumpang taksi air.

Setiba di Muara Muntai, Anda dapat melanjutkan perjalanan menggunakan ketinting ke Tanjung Isuy dengan melewati Danau Jempang. Untuk sampai di Kampung Mancong Anda memerlukan waktu 15-20 menit dari Tanjung Isuy menggunakan jalur darat.

Quote:

Rumah Panjang Dayak Tamambaloh Apalin di Kampung Banua Tengah, Desa Benua Tengah, Kecamatan Putussibau Utara, Kabupaten Kapuas Hulu

Kampung Banua Tengah, Desa Benua Tengah Hilir, Kecamatan Putussibau Utara, Kabupaten Kapuas Hulu, nyaris tidak pernah dikenal banyak orang. Jaraknya dari Kota Putussibau 52,5 km jalan aspal dan 4,5 km jalan tanah bercampur batu kerikil, pasir dan batu. Gerbang di kiri jalan sebenarnya bisa terlihat dengan jelas. Kiri-kanan jalan raya lintas utara sudah banyak rumah penduduk pindahan dari rumah panjang yang berada di pinggir Sungai Palin ini. Sebenarnya akses ke kampung ini sudah bisa menggunakan mobil.

Sepanjang 4,5 km menuju ke rumah panjang (warga setempat biasa menyebutnya rumah betang), belum banyak rumah penduduk. Ketika tiba di perkampungan, baru terlihat geliat warga meskipun tidak terlalu ramai. Di sekitar rumah betang ada beberapa rumah warga yang asalnya dari rumah betang juga. Mereka membuat rumah pribadi sejak tahun 1997 saat rumah betang rusak parah. Sekitar 200 meter dari rumah betang, mengalir Sungai Palin yang jernih dan menjadi sumber kehidupan warga. Sungainya berbatu, tebingnya agak landai, cukup deras dan dalam dengan lebar sekitar 40 meter.

Di kampung inilah bermukim sekelompok masyarakat adat Dayak Tamambaloh Apalin yang masih menyimpan kejayaan dan kekayaan budaya Dayak. Mereka hidup rukun, damai dan sejahtera di rumah betang yang mereka namai Dai Bolong Pambean. Betang ini berdiri tahun 1864.

Sejarah Rumah Panjang Dai Bolong Pambean

Nama rumah panjang ini Dai Bolong Pambean. Dalam bahasa sastra Dayak Tamambaloh Apalin membahasakannya sebagai berikut: dai bolong pambean, dai danum sandikan, sunge sandik buk banang, sunge lapi buk loek. Singkatnya, dalam bahasa Indonesia dapat diartikan rumah betang di Sungai Palin yang kecil dan panjang. Berdasarkan cerita Ketua Adat Kampung Banua Tengah, Desa Benua Tengah Hilir, Ambrosius Ajat (57), anggota Badan Pemusyawaratan Desa, Hangtua (65), tetua adat, Markus Gamun (67), Kepala Desa Benua Tengah Hilir, Alexander Layo; sejarah rumah panjang Dai Bolong Pambean tidak terlepas dari sejarah Banua Sariu yang sudah ada sejak ratusan tahun silam.

Banua Sariu terdiri dari 27 kampung rumah betang yang bermukim di kawasan Sungai Palin dari hulu sampai ke hilir. Paling hulu kampungnya dipimpin oleh Bakik (kakek) Toan dekat kawasan Taman Nasional Betung Kerihun sekarang. Kampung paling hilir dipimpin oleh Bakik Nalingeh (kampung yang ke 27). Sedangkan kampung yang menurunkan ke penduduk di Dai Bolong Pambean adalah kampung yang ke 26 yang dipimpin oleh Bakik Marong berada di Tembawang Penjawan, di hilir betang Dai Bolong Pambean. Penduduk di Benua Sariu jaman ratusan tahun silam itu sangat banyak. Konon, jika semua penduduknya berkumpul dan menyandarkan tombaknya di pohon kelapa yang sudah berbuah, pohon kelapa itu sampai condong menahan banyaknya tombak warga.

Karena peristiwa Polek Mopa (seorang nenek membalas dendam atas kematian anak dan cucunya dengan meracuni Sungai Palin dari hulu hingga hilir), banyak warga di Banua Sariu yang mati. Yang tersisa salah satunya adalah beberapa warga yang melarikan diri ke Sungai Penjawan di bawah pimpinan Bakik Marong. Setelah Bakik Marong, pemimpinnya Bakik Giling (pasca peristiwa Polek Mopa) dan keturunan dari Penjawan inilah yang melahirkan warga yang kini bermukim di betang Dai Bolong Pambean.

Perintis pendiri rumah betang Dai Bolong Pambean adalah Bakik Layo (moyangnya Alexander Layo-Kades sekarang) asal dari Penjawan, keturunan Bakik Giling. Menurut Ambrosius Ajat, rumah betang ini berdiri tahun 1864. Ajat mengatakan bahwa mereka tidak mengada-ada karena inilah cerita turun-temurun dari kakek nenek mereka. Pada tahun 1940 (setelah betang ini berusia 76 tahun), rumah betang direhap untuk pertama kalinya. Saat rehap pertama, tingginya diturunkan dari tinggi awal yakni 7,3 meter menjadi 4,50 meter. Ini terbukti dari bekas lobang tiang bumbungnya. Rehap pertama dilakukan pada masa kepemimpinan Bakik Arugun (anak menantu Bakik Layo) tahun 1940, saat ia sudah berusia 54 tahun. Ia meninggal tahun 1973 dalam usia sekitar 87-an tahun. Total jumlah tindok-an (bilik) kala itu sebanyak 39. Tahun 1997-2002, massa suram bagi rumah betang ini. Dinding, lantai dan atap rusak parah sehingga banyak warga pindah membuat rumah tunggal di sekitar betang. Berdasarkan penuturan Marselus Rabuk (54), Kepala Kampung yang tinggal di bilik nomor 32, bahwa dampak rusaknya rumah betang pada masa itu, banyak tradisi adat tidak dilakukan karena berada di rumah pribadi. Rabuk mengatakan bahwa benar rumah betang adalah jantung budaya Dayak, karena di betang inilah segala aktivitas budaya dilakukan.

Melihat kondisi betang yang rusak parah, adat-istiadat tidak berjalan sesuai arah, warga berinisiatif melakukan kombong (musyawarah) untuk menyepakati dan membentuk panitia rehap. Disepakatilah Ambrosius Ajat sebagai ketuanya dan Raran (anggota BPD yang juga seorang guru) sebagai sekretarisnya. Diajukanlah proposal ke pemerintah kabupaten. Rehap pun bisa terlaksana pada tahun 2005 atas bantuan pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu. Proses rehap mulai berjalan sejak tahun 2005 dan terus dilakukan penambahan di sana-sini. Pada tahun 2006, betang ini ditetapkan oleh pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu sebagai situs cagar budaya berdasarkan Surat Keputusan Bupati nomor 47 tahun 2006. Kemudian tahun 2010, setelah rehap dianggap selesai (meskipun sampai sekarang masih ada penambahan di sana-sini), pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu meresmikannya (kala itu bupati masih dijabat oleh Abang Thambul Husin).

Menurut Ajat, dalam kondisi rusak parah, akhirnya rehap bisa juga selesai, namun mereka semua bersepakat akan terus menambah beberapa bangunan seperti dapur dan toilet dengan tidak mengganggu sedikitpun bangunan utama. Bangunan utama tetap utuh. Sebab tiangnya tidak ada satu pun yang miring atau rusak karena semua dari pakayo tolekan (kayu belian). Tiang-tiang utuh kayu belian inilah yang membuat nilai lebih rumah betang ini. Salah satu tiangnya ada yang berdiameter 68 cm. Sumber dana rehap dan penambahan untuk dapur dan toilet, sebagian dari dana pemerintah kabupaten, anggaran dana desa dan swadaya masyarakat.

Berdasarkan penjelasan kepala Desa Benua Tengah Hilir, Alexander Layo, mereka juga memberi kesempatan kepada siapa saja, terutama yang keturunannya berasal dari betang ini untuk membuat bilik sendiri di bagian hilir. Di bagian hulu rencananya akan dibuat satu bilik untuk museum tempat menyimpan benda antik dan kerajinan tangan warga setempat. Bilik paling hulu saat ini adalah bilik Alexander Layo. Ia masih golongan samagat (bangsawan). Komitmennya bersama Ajat serta dukungan semua warga untuk memajukan betang Dai Bolong Pambean patut mendapat apresiasi. Harapannya kelak, betang ini akan berfungsi sebagai pusat budaya Dayak Tamambaloh Apalin. Bahkan jika museum terwujud, mungkin ini betang satu-satunya yang mempunyai museum.

Bulan Juni tahun 2012 akan diadakan acara adat Mamasi yakni peresmian pasca rehap rumah betang Dai Bolong Pambean secara adat. Mamasi dalam tradisi adat Dayak Tamambaloh Apalin termasuk sebuah acara adat yang sangat besar sehingga mereka sudah mempersiapkan semua bahan kelengkapan upacaranya sejak bulan Juni 2011.

Mengapa Rumah Panjang Hampir Punah?

Ketika kita membicarakan rumah betang, pertanyaan yang sering muncul salah satunya mengapa sudah diambang kepunahan. Beberapa hal yang ikut menggoyahkan keberadaan rumah panjang antara lain sejak tahun 1904 saat pemerintahan kolonial Belanda mengeluarkan peraturan, antara lain tertulis: Setiap kepala keluarga yang mampu harus membuat rumah tinggal masing-masing yang permanen. Selain itu juga, mereka diharuskan berkebun ke luar di sekitaran kampungnya (Mudiyono: 2010). Beberapa pengamat menganggap kehadiran misi dan zending di pehuluan sungai juga ikut menggoyahkan keberadaan dan makna rumah panjang. Bangunan masyarakat adat Dayak itu dianggap kurang higienis dan mudah memancing kebakaran besar. Serta merupakan gelanggang upacara adat lokal yang kurang berkenan bagi ajaran agama baru dan pengembangannya. Selain itu, pada masa kolonial Belanda sampai masa Orde Baru, rumah panjang diawasi ketat karena ditakutkan sebagai gelanggang rapat gelap kelompok bahaya laten negara.

Mengapa Harus Dipertahankan?

Pentingnya mempertahankan rumah panjang, karena di sanalah masyarakat Dayak dapat melestarikan keterampilan kerajinan anyaman, tenunan, pahatan dan sebagainya. Selain itu, tinggal di rumah panjang bermanfaat untuk memelihara rasa kekeluargaan dan solidaritas. Sebelum tahun 1960-an, kalau salah seorang penghuni rumah panjang memperoleh ikan dan hasil buruan lainnya, perolehan itu dibagi-bagi dan dimakan bersama-sama. Namun kini warga makin memahami nilai ekonomi, sehingga hasil buruan dijual ke sesama penghuni rumah panjang.

Dalam kehidupan sehari-hari, bagian terbuka rumah panjang merupakan tempat para pemuda Dayak belajar kepada tetua mereka. Di situlah sejarah lisan, tradisi dan filsafat hidup dengan berbagai kebijaksanaan dan pengetahuan asli manusia Dayak yang terkandung sejumlah cerita rakyat dan kisah-kisah kepiawaian nenek-moyang diturunkan kepada generasi berikutnya. Di sana pula para putri Dayak belajar menganyam dan menenun. Di rumah panjang pula, acara-acara ritual dilaksanakan, pengadilan adat yang demokratis digelar, persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan dirundingkan, dan keputusan bersama ditaati setiap orang. Singkatnya, rumah panjang adalah pusat segala aktivitas sosial, budaya, ekonomi, dan politik masyarakat Dayak. Ia adalah jantung kehidupan suku Dayak (Djuweng dalam Kompas, Rabu, 04 Feb 1998 hal.19: Robert Adhi Ksp/Jannes Eudes Wawa).

Mgr. Hieronymus Bumbun OFM. Cap, putra Dayak Mualang yang juga Uskup Agung Pontianak berpendapat, sebenarnya untuk mencapai modernisasi dan pola hidup sehat/higienis, yang dilakukan bukannya dengan penyuluhan agar masyarakat membongkar rumah panjang. Tetapi dengan menciptakan pola hidup higienis yang sesuai dengan tatanan sosial budaya masyarakat rumah panjang. Mgr. Bumbun mengatakan bahwa pembongkaran rumah-rumah panjang berdampak negatif terhadap pola hidup masyarakat di pedalaman. Sebab perumahan pola tempat tinggal suku Dayak dari rumah panjang ke rumah tunggal, mendorong berkembangnya sikap individualistis (Kompas, Rabu, 04 Feb 1998 hal.19: Robert Adhi Ksp/Jannes Eudes Wawa).

Masing-masing masyarakat adat Dayak mempunyai cirikhas rumah panjang. Namun beberapa hal yang hampir sama yakni:

Berbentuk tinggi di atas rata-rata 5 meter. Memanjang, rata-rata di atas 50 meter. Umumnya terbuat dari kayu belian. Tangga terbuat dari kayu bulat. Aksesnya ada yang langsung di depan rumah dan ada yang berada di bawah kolong samping rumah. Tangga umumnya 2. Satu bagian hilir dan 1 bagian hulu. Mempunyai beranda-ruang tengah untuk berkumpul, tempat menganyam,menumbuk padi dan bersenda gurau. Setelah ruang beranda ada kamar-kamar (bilik-bilik) milik masing-masing keluarga yang disekat dinding. Setelah ruang bilik ada dapur. Ada yang mempunyai loteng. Letaknya tidak jauh dari sungai.

Secara garis besar, pembagian ruangnya terdiri dari:

Bagian depan

Pada bagian depan rumah panjang terdapat sebuah anak tangga sebagai pintu masuk ke dalam rumah. Rumah yang berbentuk panggung dengan ketinggian sekitar tiga sampai lima meter dari permukaan tanah ini sengaja dibangun untuk menghindari banjir dan serangan binatang buas.

Bagian Tengah

Di ujung anak tangga, kita akan menjumpai sebuah bale atau balai yang tidak terlalu luas, fungsinya sebagai tempat untuk menerima tamu maupun untuk mengadakan pertemuan dengan kerabat maupun keluarga yang lain. Masuk ke dalam bangunan kita akan melihat banyak ruangan yang disekat menjadi beberapa ruangan. Setiap ruangan atau bilik ini terkadang ditempati oleh beberapa keluarga.

Bagian Belakang

Di bagian belakang rumah panjang terdapat sebuah ruangan yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan hasil dan alat-alat pertanian. Selain itu, juga memiliki kandang ternak yang menyatu di rumah, karena hewan peliharaan termasuk dalam harta kekayaan keluarga seperti ayam dan babi.

Ada juga kebiasaan beberapa komunitas rumah panjang yang menghiasi rumah panjang dengan mengukir tiang di beranda, memasang ukiran burung enggang di atas bumbungan atap, mengukir/memahat tangga dan lainnya.

Rumah Adat Baluq

Selain mempunyai rumah panjang, masyarakat adat Dayak khususnya Dayak Bidayuh mempunyai rumah adat yang cukup unik. Namanya Baluq. Berbentuk bundar, berdiameter kurang lebih 10 meter dengan ketinggian kurang lebih 12 meter dan disanggah sekitar 20 tiang kayu dan beberapa kayu penopang lainnya serta sebatang tiang digunakan sebagai tangga yang menyerupai titian. Ketinggian ini menggambarkan kedudukan atau tempat Kamang Triyuh yang harus dihormati. Dahulu baluq merupakan tempat pendidikan bagi para pemuda. Di rumah tinggi ini disimpan berbagai benda pusaka, termasuk tengkorak hasil menggayau. Di sini para tetua bercerita kepada generasi muda tentang asal-usul nenek-moyang dan kisah kepahlawanan nenek-moyang mereka.

Rumah Adat Balug yang masih dipelihara dengan baik terletak di Desa Sebujit, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia yang berbatasan dengan Sarawak Malaysia. Miniatur rumah adat ini sudah diresmikan di Anjungan Kalbar, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta tahun 2010. Rumah adat ini biasanya dipakai untuk tempat upacara Nyobeng yakni upacara ritual memandikan atau membersihkan tengkorak manusia hasil mengayau nenek moyang suku Dayak Bidayuh jaman dulu.

Sumber :https://kampungtanjungisuy14.wordpress.com/2014/05/26/rumah-adat-dayak-benuaq-lamin/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

+ 24 = 34